Gelap Bercahaya
Gelap Bercahaya
Semenjak keluar dari tempat kelahiran untuk memutuskan mngambil studi di kota orang dengan berbekalkan kemauan dan tekat yang kuat walaupun dengan keadaan ekonomi bisa dikatakan kurang mampu. Berjalannya waktu hari demi hari sabar menjadi makanan utama di setiap hidup puasa karena keadaan sering di alami sedih namun tidak bisa menangis air mata tidak dapat keluar beban yang di rasa berat tidak terasa berat dengan keyakinan bahwa diri ini yakin masa depan akan cerah tidak ada awan mendung maupun hujan dengan badai.
Semester demi semester dilalui dengan penuh pengharapan tiada henti walaupun keadaan ekonomi keluarga dalam keadaan terpuruk hal itulah membuat semangat belajar semakin bertambah. Kata cuti kuliah menjadi berhantu di setipa semester, tidak membuat diri menjadi takut pasti ada jalan pasti ada harapan. Keadaan yang semakin mendesak menjadi tantangan tersendiri dalam hidup keputusasaan selalu menghantui setiap saat terkadang manusia seperti itu selalu takut akan sesuatu.
Tiga tahun sudah melewati masa masa studi yang cukup berat tidak hanya diri sendiri keluargapun merasakan hal yang sama. Menghadapi kelulusan memang luar biasa namun menghadapi kelulusan dengan keadaan sendiri tanpa ada yang menemani seorangpun itu menjadi hal luar biasa bukan berarti diri ini sedih melainkan mempunyai tantangan baru tersendiri. Hari kelulusan memang bahagia namun ada yang lebih penting selain hari kelulusan hari esok tentukan pilihan mau jadi apa untuk hari esok.
Tanpa di sangka sangka apa yang menjadi harpaan tidak sesuai dengan realita kehidupan nyata. Semenjak lulus dari perguruan tinggi tidak hanya menetap melainkan ngelamar kesana kemari dengan harapan dapat bekerja dan membantu memulihkan keadaan keluarga yang sangat terpuruk beberapa daerah sudah di datangi untuk test masuk ke perusahaan namun belum rezeki sehingga tidak diterima waktu itu memang segala biaya hasil dari tabungan sendiri dan ikut teman untuk merantau mengikuti test masuk perusahaan.
Beberapa bulan setelah hari kelulusan keadaan ekonomi keluarga semakin terpuruk sehingga kami tidak mempunyai uang sedangkan makan dan kebutuhan sehari hari susah dari pada diri ini entah kemana keputusanpun di ambil untuk tinggal semntara di tempat nenek sambil menunggu berkat. Sebagai manusia siapa yang akan tahan untuk menghadapi semua ini pada zaman ini yang begitu berkembang cepat dan apapun serba mahal segalanya di tentukan oleh uang.
Terbesit dalam pikiran ternyata sesuatu perjuangan itu memang membutuhkan modal berupa uang tidak bisa dipungkiri segala sesuatu keperluan memang mebutuhkan uang. Singkat cerita hampir setengah tahun menunggu adanya panggilan selama menunggu memang beberapa kali ada kesempatan untuk bekerja namun terkendala yang menjadi kendala adalah biaya ttransportasi dan beberapa kebutuhan sehingga dengan berat hati tidak mengambil berkat itu. Memang berkat atau rezeki itu sudah di sediakan masing masing kata itu memang tidak ada yang salah sama sekali.
Berkat atau rezeki memang sudah ada masing masing individu tapi secara manusia bagaimana mengenali berkat atau rezeki itu. berkat atau rezeki tidak semerta merta datang secara tiba tiba tanpa di sadari pasti perlu tindakan manusia untuk mengambil berkat atau rezeki itu. Terkadang manusia harus mengenali berkat maupun rezeki yang datang dalam hidup sekarang terserah manusianya mau ambil atau tidak atau hanya diam bahkan mengacuhkan berkat atau rezeki itu, pasrah dan berserah berbeda.
Pengalaman yang terjadi memang selama hampir setengah tahun belum ada panggilan diri ini terus berharap dan berserah bukan pasrah kesempatan demi kesempatan datang namun kami sekeluarga belum mempunyai kekuatan untuk mengambil berkat atau rezeki itu, kesal ya bisa dikatakan begitu namnya juga manusia.
Terkadang kami tidak mengerti apa yang menjadi rencana sang pencipta, apa yang menjadi kemauan sang pencipta atas hidup ini. Satu hal yang membuat diri ini tidak pernah marah kepada sang pencipta bahwa kami masih bisa menghirup nafas kehidupan, kami masih diberi kesehatan, kami masih bisa makan walaupun sedikit, kami masih bisa tidur, kami masih punya keluarga, kami masih bisa berdoa kepada sang pencipta dan kami masih bisa berbagi untuk memberi dampak positif untuk lingkungan keluarga bahkan disekitar kami.
Writer: ReY
Komentar
Posting Komentar